Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Ajak Siswa SMA/SMK Semarang Membaca Kritis
Kahar Dwi P.

Kota Semarang, balaibahasajateng.kemendikdasmen.go.id—Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah mengajak siswa SMA dan SMK di Kota Semarang untuk meningkatkan kemampuan membaca kritis melalui kegiatan Peningkatan Kompetensi Membaca Kritis bagi Murid SMA/SMK di Kota Semarang yang digelar di Aula SMA Kesatrian 2 Semarang pada Selasa, 9 Juni 2026. Kegiatan ini diikuti 100 siswa dari berbagai SMK dan SMK, baik negeri maupun swasta, di Kota Semarang.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati, menegaskan bahwa membaca kritis tidak sekadar memahami isi bacaan, tetapi juga menganalisis, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi secara mendalam. Kemampuan tersebut dinilai penting untuk membedakan fakta dan opini, mengenali bias, serta menyaring hoaks yang marak di era digital. Dalam kesempatan itu, Laily juga mengingatkan pentingnya menemukan makna dan pesan di balik sebuah bacaan.
Laily menyampaikan bahwa pembinaan peserta tidak berhenti pada kegiatan tatap muka.
“Setelah kegiatan tatap muka ini, selanjutnya para siswa akan mengikuti empat sesi pendampingan daring bersama narasumber guna memperkuat keterampilan membaca kritis mereka,” ujar Laily.
Laily juga memperkenalkan berbagai program kebahasaan dan kesastraan Balai Bahasa Jateng, seperti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), pelestarian bahasa daerah, hingga Senarai Istilah Budaya Jawa (Sibaja).
Diwakili oleh Kasi SMA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 2 Provinsi Jawa Tengah, Nuniek Mustikaningtyas Runtuweni, S.Pd., M.Pd., Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 2 Provinsi Jawa Tengah memberikan dukungan terhadap kegiatan ini.
“Kegiatan ini menjadi sarana penting bagi siswa untuk meningkatkan kemampuan literasi sekaligus membangun sikap kritis terhadap informasi,” tutur Nuniek.
Nuniek mengingatkan siswa agar tidak menerima informasi secara mentah. Ia mendorong penerapan langkah-langkah sistematis saat membaca, mulai dari mengidentifikasi tujuan penulis, membedakan fakta dan opini, mengevaluasi bukti, hingga memahami pesan tersirat.
Sementara itu, Dhiyah Endarwati, S.Pd., M.Pd., Gr., penggerak literasi Kabupaten Kendal yang menjadi narasumber kegiatan tersebut mengajak peserta membuka bungkus buku atau bacaan dan menghindari pembacaan berhenti pada lapis luar. Narasumber lain, Rahma Ade Triana, mengajak peserta membaca dengan Higher Order Thinking Skills (HOTS), yakni proses memahami teks secara mendalam hingga ke tahap menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Praktik ini mengubah dari membaca pasif menjadi aktivitas interaktif yang melatih kemampuan berpikir kritis. Menurutnya, membaca berbasis HOTS sangat penting untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif melalui analisis untuk memecahkan masalah. [kdp/sun/aas]
Penyunting: Sunarti