Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Laksanakan Inventarisasi Kosakata Budaya Jawa di Klaten
Ahmad Muzaki

Kabupaten Klaten, balaibahasajateng.kemendikdasmen.go.id—Tim Kerja Pengembangan Bahasa dan Sastra, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, (BBP Jateng) melaksanakan kegiatan Inventarisasi Kosakata Budaya Jawa di Kabupaten Klaten. Kegiatan yang dilaksanakan pada 11—13 Februari 2026 ini menggali kosakata budaya Jawa, terutama yang berkaitan dengan nyadran, gerabah, selamatan, dan pertanian.
Koordinator Tim Kerja Pengembangan Bahasa dan Sastra, Ema Rahardian, S.S., M.Hum., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya entri Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Selain itu, kosakata dan informasi yang terinventarisasi juga untuk memperkaya entri kamus digital Senarai Istilah Budaya Jawa (Sibaja) dan Ensiklopedia Bahasa dan Sastra (EBS). Produk-produk tersebut diharapkan dapat mempermudah siswa dan masyarakat umum untuk mempelajari kosakata budaya Jawa.
Pada hari pertama, tim kerja melakukan pengambilan data kosakata yang berkaitan dengan tradisi nyadran, selamatan, atau persembahan sesaji di tempat yang dikeramatkan. Kali ini, tim mendatangi tempat nyadran, yaitu makam di Dukuh Kwoso, Gergunung, Klaten Utara. Tim berhasil mengumpulkan data kosakata yang berkaitan dengan tahapan nyadran, makanan, serta peralatan yang biasanya digunakan saat nyadran. Selanjutnya, tim menuju Kelurahan Jatinom, Klaten Utara untuk mengulik kosakata yang berkaitan dengan tradisi selamatan dan bancakan.
“Di Kelurahan Jatinom selamatan dan bancakan biasanya dilakukan pada momen-momen tertentu seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian. Jenis makanan dan perlengkapan yang digunakan pun berbeda-beda,” ujar Mulyani, warga Kelurahan Jatinom yang saat ini masih melestarikan tradisi selamatan dan bancakan.
Untuk menggali kosakata budaya yang lain, tim mengunjungi Perguron Kyai Ageng Gribig yang terletak di Desa Jatinom, Kecamatan Jatinom. Di tempat ini, tim menemui Mohammad Daryanta, pengurus Yayasan Pengelola Pelestari Peninggalan Kyai Ageng Gribig (P3KAG). Tim berhasil menggali informasi tentang tradisi Andum Apem Yaa Qawiyyu. Daryanta menyampaikan bahwa penamaan apem yaa qawiyyu diambil dari bahasa Arab yang juga merupakan salah satu nama Allah Swt. yang berarti Yang Maha Kuat.
“Tradisi Andum Apem Yaa Qawiyyu dilaksanakan pada pertengahan bulan Safar (Sapar) antara tanggal 12–20 setelah pelaksanaan salat Jumat. Tradisi ini merupakan perpaduan antara spiritualitas, sejarah, dan keramaian rakyat yang unik. Bahkan, masyarakat percaya bahwa apem yang disebarkan membawa berkah dan kekuatan,” jelas Daryanto.
Pada hari kedua, tim inventarisasi menggali kosakata terkait gerabah, petung aboge, dan pertanian di tiga tempat, yaitu Desa Melikan, Kecamatan Bayat; Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes; dan Desa Ngabeyan, Kecamatan Karanganom. Tim berhasil mengumpulkan informasi dan menginventarisasi kosakata terkait jenis gerabah, proses dan alat yang digunakan untuk membuat gerabah, metode perhitungan hari baik berdasarkan sistem petung aboge, serta istilah-istilah pada bidang pertanian dan perkebunanan.
Pada hari ketiga, tim melakukan kunjungan ke Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Klaten untuk menjalin kerja sama terkait inventarisasi kosakata budaya Jawa di Kabupaten Klaten dan Pemanfaatan Senarai Istilah Budaya Jawa (Sibaja). Bagiono, staf Bidang Kebudayaan, menerima dengan baik kunjungan Tim Kerja Pengembangan Bahasa, BBP Jateng.
“Kami sangat berterima kasih dan mendukung upaya yang dilakukan oleh Balai Bahasa dalam melestarikan budaya Jawa melalui kegiatan inventarisasi kosakata di Kabupaten Klaten ini. Mudah-mudahan melalui pendokumentasian kosakata atau istilah budaya Jawa, istilah-istilah itu akan tetap lestari dan dikenal masyarakat,” sambut Budiono.
Secara keseluruhan, kegiatan Inventarisasi Kosakata Budaya Jawa di Kabupaten Klaten telah menjaring data kosakata 1) nyadran, seperti regang ‘nampan berbentuk kotak yang terbuat dari anyaman bambu dan pelepah daun pisang yang digunakan sebagai tempat meletakkan sajian untuk nyadran’; 2) gerabah, seperti ngireng ‘proses pewarnaan gerabah dengan warna hitam’ dan lethok ‘cairan yang terbuat dari campuran air dan tanah liat yang digunakan untuk menghaluskan atau menyatukan potongan gerabah’; 3) selamatan, seperti suduk sewu ‘lidi yang di atasnya sudah ditancapkan bawang merah dan cabai merah, digunakan sebagai perlengkapan brokohan’; (4) pertanian, seperti najeni ‘selamatan yang dilakukan setelah tiga hari masa tanam padi’ dan rembang ‘tanaman tebu yang sudah siap untuk dipanen’. [zak/sun/aas]
Penyunting: Sunarti
