Ketika Kecerdasan Buatan Menjawab Semua, Apakah Pelajar Masih Mau Bertanya?

Share link

Muhammad Fikri Alhaddar, Maulida Zahra Qutratu’ain*)

 

Palu gada, apa lu mau, gua ada!”, demikianlah kira-kira yang ditawarkan kecerdasan buatan. Mengapa tidak? Di era ketika satu ketukan jari mampu membuka gerbang dunia, kecerdasan buatan sanggup menaklukkan hampir semua perintah manusia. Menjawab soal, merangkum teks panjang, bahkan menyusun kalimat demi kalimat dalam tulisan akademis adalah hal yang mudah diselesaikan oleh kecerdasan buatan.

Namun, alih-alih digunakan sesuai kebutuhan dalam ranah pendidikan, hasil dari kecerdasan buatan justru kerap diakuisisi seakan-akan merupakan karya pelajar. Sekilas, semua terasa sederhana. Lebih jauh, di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan yang menggelisahkan, apakah generasi muda masih terdorong untuk berpikir kritis? Bagaimana kemampuan berbahasa Indonesia mereka jika untuk menyusun kata-kata saja mereka tidak terbiasa?

Eksistensi bahasa Indonesia di kalangan remaja memang cukup tinggi dilihat dari jumlah penuturnya. Data Kemdikbud (2022) menyebutkan bahwa hingga 2021, bahasa Indonesia telah memiliki 199 juta penutur yang tersebar di 47 negara. Bahkan, bahasa Indonesia menempati  peringkat ke-9 sebagai bahasa dengan penutur terbanyak di dunia (Hasan, 2019). Namun, jika  melihat kondisi pemanfaatan kecerdasan buatan yang memprihatinkan, apakah kebanggaan ini akan tetap terjaga atau justru berkurang nilainya?

Jumlah penutur memang besar, tetapi kualitas pemahaman penutur jati bahasa Indonesia itu sendiri masih lemah. Pasalnya, sejak beberapa tahun terakhir, penggunaan kecerdasan buatan mulai mengubah peradaban. Pelajar termanjakan oleh kecerdasan buatan dalam menyusun kalimat gagasan karena tidak terbiasa berpikir secara struktural dalam menyusun kalimat. Akibatnya, kecerdasan linguistik pelajar mengalami penurunan yang berdampak pula pada tingkat berpikir kritis pelajar. Fenomena ini kerap disebut sebagai brain rot atau pembusukan otak yang merupakan kondisi penurunan fungsi otak akibat terlalu sering menggunakan kecerdasan buatan dan mengkonsumsi konten daring berkualitas rendah.

Kondisi tersebut diperparah dengan minat peserta didik yang rendah terhadap bahasa Indonesia. Akibatnya, mata pelajaran Bahasa Indonesia kini masih dipandang sebelah mata oleh peserta didik (Lasri dkk., 2022). Sejalan dengan fenomena tersebut, kualitas pemahaman dan minat belajar bahasa Indonesia di sekolah masih rendah. Sebuah penelitian mengungkap bahwa 63% siswa tidak membawa buku Bahasa Indonesia ke kelas, 70% tidak membaca materi sebelum pelajaran, bahkan 85% enggan menjawab pertanyaan guru (Suara, 2025). Data ini menunjukkan bahwa pelajaran Bahasa Indonesia masih dianggap remeh, seolah karena sudah digunakan sehari-hari maka tidak perlu dipelajari secara serius. Ditambah dengan hadirnya kecerdasan buatan, pelajar semakin terbiasa mencari jawaban instan tanpa melewati proses berpikir mendalam. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi muda akan semakin jauh dari kemampuan untuk berbahasa secara kritis dan kreatif.

Kedaulatan bahasa Indonesia tidak cukup hanya dengan banyak penutur. Bahasa ini harus menjadi sarana berpikir kritis, menyampaikan gagasan, dan menjadi sarana membangun peradaban ilmu. Sejak Sumpah Pemuda 1928 hingga termaktub dalam Pasal 36 UUD 1945, bahasa Indonesia adalah perekat kebangsaan. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol identitas. Namun, jika pelajar lebih fasih menyalin jawaban kecerdasan buatan daripada merangkai kalimat dengan pemikirannya sendiri, bagaimana nasib bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa peradaban?

Fenomena ini juga berimbas pada mutu pendidikan. Pendidikan bermutu bukanlah pendidikan yang hanya menghasilkan siswa pandai menjawab soal, melainkan siswa yang mampu merumuskan pertanyaan kritis. Sayangnya, masih banyak pelajar yang terjebak pada pola belajar instan. Tidak sedikit hanya menyalin jawaban dari internet atau hasil generatif AI. Jika hal ini berlanjut, pembelajaran akan kehilangan rohnya: membentuk pemikir, bukan sekadar penyalin. Tak heran, hasil survei PISA 2022 menempatkan Indonesia di peringkat 69 dari 81 negara dalam kemampuan membaca (OECD, 2023). Angka ini menunjukkan bahwa minat baca dan keterampilan literasi kita masih jauh dari harapan.

Lantas, bagaimana agar bahasa Indonesia tetap berdaulat di tengah gempuran kecerdasan buatan? Pertama, kita perlu mengubah cara pandang bahwa kecerdasan buatan adalah musuh. Justru, kecerdasan buatan bisa menjadi mitra belajar yang menantang siswa untuk berpikir lebih kritis. Misalnya, guru bisa memberikan tugas membandingkan teks dari kecerdasan buatan dengan teks karya siswa, lalu mengajak mereka menganalisis perbedaan struktur, gaya, dan logika. Dengan begitu,  siswa belajar menulis, sekaligus  mengevaluasi, membedakan, dan mengkritisi. Inilah keterampilan abad 21 yang sejatinya menjadi inti pendidikan bermutu.

Kedua, pembelajaran Bahasa Indonesia perlu dibuat kontekstual dan dekat dengan dunia pelajar dengan mengintegrasikan literasi digital ke dalam literasi bahasa. Siswa dapat dilatih untuk membedakan berita palsu dengan berita valid atau mendekonstruksi narasi di media sosial. Dengan demikian, mereka tidak hanya belajar tata bahasa, tetapi juga menggunakan bahasa sebagai senjata melawan manipulasi informasi. Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, yang menegaskan bahwa bahasa Indonesia adalah alat pemersatu bangsa sekaligus sarana pengembangan ilmu pengetahuan.

Salah satu cara menjaga mutu pendidikan sekaligus kedaulatan bahasa adalah dengan mengasah kecerdasan linguistik siswa. Kecerdasan linguistik tidak hanya tentang pandai menulis atau berbicara, tetapi juga kemampuan memahami makna, memilih kata yang tepat, serta menyusun argumen secara runtut. Gardner (1983) bahkan menegaskan bahwa kecerdasan linguistik adalah fondasi bagi keterampilan berpikir tingkat tinggi, termasuk berpikir kritis. Seorang pelajar yang terbiasa menuliskan gagasannya dengan bahasa sendiri akan lebih mudah mengurai persoalan, mempertanyakan asumsi, dan menyusun jawaban yang logis.

Contoh konkretnya, guru dapat memberikan latihan berupa analisis berita daring. Siswa diminta membaca dua artikel tentang isu yang sama, lalu diminta menuliskan opini mereka dengan bahasa sendiri. Dari sini, kemampuan linguistik mereka terasah karena harus memilih kata, menghubungkan kalimat, sekaligus menguji validitas informasi. Proses semacam ini otomatis menumbuhkan daya kritis sebab mereka tidak hanya menyalin informasi, tetapi juga menafsirkan dan mengevaluasi. Kecerdasan buatan pun dapat dilibatkan, misalnya dengan meminta siswa membandingkan hasil analisis pribadi mereka dengan ringkasan yang dihasilkan kecerdasan buatan. Diskusi kritis semacam ini akan menumbuhkan kesadaran bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga senjata untuk berpikir tajam.

Ketiga, inovasi pembelajaran perlu dilakukan agar bahasa Indonesia tidak lagi dianggap membosankan. Metode berbasis proyek bisa menjadi alternatif. Siswa dapat membuat siniar, vlog, atau artikel populer yang membahas isu terkini. Proyek kreatif seperti Jelawa, laman yang mengenalkan makanan khas daerah sekaligus mengajarkan berbagai jenis teks, membuktikan bahwa bahasa bisa diajarkan dengan cara yang menyenangkan. Inovasi-inovasi ini dapat menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bisa tampil dengan wajah segar dan relevan.

Keempat, peran guru sangat penting. Guru bukan sekadar pengajar, melainkan juga fasilitator dan inspirator. Guru Bahasa Indonesia dituntut kreatif memanfaatkan teknologi, tetapi tetap menekankan pentingnya orisinalitas. Dengan pendekatan yang tepat, kecerdasan buatan bisa diarahkan menjadi sarana eksplorasi, bukan jalan pintas. Pendidikan bermutu berarti mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh dalam berpikir kritis dan bijak menggunakan teknologi.

Akhirnya, pertanyaan di awal kembali terngiang, “Apakah pelajar masih mau bertanya?” Jawabannya tentu saja, jika ekosistem pendidikan mampu membimbing mereka untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang berdaulat. Pendidikan yang bermutu bukan hanya mengajarkan cara menjawab, melainkan juga melatih keberanian untuk meragukan, mengkritisi, dan mencipta. Dengan demikian, bahasa Indonesia tetap tegak sebagai penanda identitas, sarana berpikir kritis, sekaligus tonggak peradaban bangsa, bahkan di tengah derasnya arus kecerdasan buatan. [aas]

 

 

 

*) Pemenang Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah 2025

Daftar Pustaka

Hasan, R. A. (2019, September 19). 10 bahasa dengan penutur terbanyak di dunia, Indonesia urutan berapa? Liputan6.com. https://www.liputan6.com/global/read/4063214/10-bahasa-dengan-penutur-terbanyak-di-dunia-indonesia-urutan-berapa

Hidayatullah, A., & Gunawan, H. (2021). Sikap bahasa mahasiswa terhadap bahasa Indonesia ragam ilmiah. Diglosia: Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia, 5(1), 69–76. https://www.jurnal.unma.ac.id/index.php/dl/article/view/2379

Jadmiko, R. S., & Damariswara, R. (2022). Analisis bahasa kasar yang ditirukan anak remaja dari media sosial TikTok di Desa Mojoarum Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 15 (2), 227–240. https://doi.org/10.30651/st.v15i2.13162

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022, April 6). Bahasa Indonesia, salah satu bahasa negara yang berkembang pesat di dunia. Kemdikbud.go.id. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2022/04/bahasa-indonesia-salah-satu-bahasa-negara-yang-berkembang-pesat-di-dunia

Lasri, S., Sulfiah, & Hanafi, F. (2022). Minat belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Kabangka terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia. Jurnal Bastra, 7 (1), 72–76. http://ojs.uho.ac.id/index.php/BASTRA

Qutratu’ain, M. Z., Dariyah, F. S., Pramana, H. R., & Utomo, A. P. Y. (2022). Analisis kecenderungan penggunaan kalimat tidak efektif pada takarir unggahan beberapa akun Instagram. Jurnal Pendidikan dan Sastra Inggris, 2 (1), 48–60. https://doi.org/10.55606/jupensi.v2i1.188


Share link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top