Sebanyak 191 Naskah Terjaring, Kurator Seleksi Cerita Anak Dwibahasa Jawa-Indonesia Berbasis Komunitas Jenjang B-3 Pilih 70 Terbaik
Ayu Intan Harisbaya, Fildza Nabila

Kabupaten Semarang, balaibahasajateng.kemdikbud.go.id–Seleksi Buku Cerita Anak (Cernak) Dwibahasa Jawa-Indonesia Berbasis Komunitas Jenjang B-3 yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) telah selesai dikurasi dan didiskusikan dalam pertemuan Zoom pada Senin (16/6).  Sebelum diskusi para kurator dimulai, Kepala BBPJT, Dwi Laily Sukmawati, S.Pd., M.Hum. membuka pertemuan dengan menyoroti seleksi cernak berbasis komunitas yang dipelopori oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Basis ini mendorong para penulis untuk memilih sendiri penerjemah dan ilustrator dalam tim mereka. Hasilnya adalah penyederhanaan proses pembuatan buku dan peningkatan produktivitas.
Pada tahun ini BBPJT menggandeng tiga kurator yang sudah malang melintang dalam dunia kepenulisan cerita anak, yaitu Dr. Heru Kurniawan; Drs. Arih Numboro; dan  dan Ambhita Dhyaningrum, M.Hum. .
Ilustrasi karya yang terkumpul tahun ini disepakati oleh para kurator telah menunjukkan banyak kemajuan. “Ada kolaborasi yang lebih baik antara penulis dengan ilustrator,” ujar Ambhita Dhyaningrum becermin pada ilustrasi karya yang terkumpul pada tahun-tahun sebelumnya.
Adapun Heru Kurniawan dalam pengamatannya berpendapat, “Ada kecenderungan beberapa naskah dengan cerita amat deskriptif dan kronologis, tetapi tidak disertai dasar konflik yang kuat sehingga penyelesaian konflik terkesan tiba-tiba.” Oleh karena itu, Heru mengusulkan agenda pembekalan untuk para penulis mengenai dasar penulisan cerita anak yang kuat.
“Penulisan bahasa Jawanya perlu diperhatikan dan  sudah saya beri catatan di situ mengenai penggunaan kalimat, kata yang benar, dan ejaannya,” ujar Arih Numboro yang berfokus pada unsur kebahasaan dalam buku cernak kali ini.
Di antara 191 karya yang masuk, para kurator menetapkan 70 karya terbaik. Karya-karya ini telah disaring menggunakan kriteria penilaian berdasarkan tema dan fokus karakter, bahasa, penerjemahan, ilustrasi, dan penyajian.
“Harapan kami melalui kegiatan rutin tentang penerjemahan ini bukan hanya pada target berapa karya yang harus dihasilkan, melainkan juga bagaimana program ini menjadi kebiasaan bagi para penulis yang ada di Jawa Tengah,” ungkap Dwi Laily. [ayu/nab/umi/aas]
Penyunting: Umi Farida
