Mengasah Kreativitas Melalui Diskusi Sastra: Penyusunan Puisi
Ria Fauzia Prasetyanti, Annisa Ika Yuliana, Faizarma Rahmat Naufal, Cania Mayya Rystin, Devi Nur Aini *)

Kabupaten Semarang, balaibahasajateng.kemdikbud.go.id—Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah mengadakan kegiatan diskusi sastra yang melibatkan seluruh mahasiswa yang magang di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan yang bertajuk Diskusi Sastra: Penulisan Puisi itu dilaksanakan di Ruang Pertemuan Gedung Bojanaloka Lantai 2 dan diikuti oleh 40 peserta yang terdiri atas 27 peserta luring dan 13 peserta daring. Adapun narasumber pada kegiatan tersebut adalah Kahar Dwi Prihartono, M.S., Penerjemah Ahli Madya, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.
Dalam paparannya, Kahar menyampaikan secara detail perbedaan antara penulis puisi dan peneliti puisi. Lebih lanjut, ia menjelaskan tentang penulisan kreatif puisi. “Puisi tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan dan pendidikan, tetapi juga mendorong seseorang untuk berpikir. Adapun dalam mencipta puisi, penggunaan teknik pengumpulan kata kunci dapat memudahkan dalam penulisan puisi sesuai dengan tema yang ingin ditulis,” jelasnya.
Peserta sangat antusias mengikuti diskusi. Hal itu terlihat dari tanggapan dan pertanyaan yang disampaikan oleh para peserta, baik peserta luring maupun daring. Salah satu peserta bertanya mengenai isu plagiasi dalam puisi karya Chairil Anwar yang berjudul “Krawang-Bekasi” yang dianggap sebagai plagiat dari puisi karya Archibald Macleish yang berjudul “The Young Dead Soldiers”. Menanggapi pertanyaan tersebut, Kahar menyampaikan bahwa dalam karya sastra tidak menutup kemungkinan terjadi pengulangan kata yang digunakan oleh penulis satu dan yang lain. Oleh karena itu, tidak ada puisi yang bersifat orisinal.
Kegiatan tersebut tidak hanya dikemas berupa diskusi. Akan tetapi, diskusi hanya sebagai pemantik bagi peserta menuju praktik menulis puisi. Setelah diskusi, peserta diajak menulis puisi sesuai dengan imajinasi masing-masing.
Zahrah, mahasiswa magang dari UNS, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat menarik dan bermanfaat. “Dengan kegiatan ini, saya terpacu dan termotivasi untuk belajar menulis karya sastra,” ungkapnya. Demikian juga para peserta diskusi lainnya, mereka berharap karya puisi yang dihasilkan pada rangkaian diskusi sastra ini terhimpun menjadi antologi puisi yang bisa diterbitkan. [rfp/aiy/frn/cmr/dna/sun/aas]
*) Saat ini Mahasiswa magang di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah dari Prodi Sastra Inggris Universitas Islam Sultan Agung, Semarang
Penyunting: Sunarti
Meditasi Gunung Lewotobi karya Muhammad Rafi’ Hanif, Unnes
Para hewan ternak beri tanda
sebelum kami tahu duka
Flores Timur, Nusa Tenggara
Sebuah komedi terjadi
dari seorang PJ Bupati
yang tak tahu tempat pengungsi
seorang bayi bernama Gibran
yang tahu pemangku kepentingan
datang mengetuk pintu
awan hitam dan lava merah
bagai tangan Tuhan yang ramah
Kecupan kuasanya
kami beribadah di tenda
sebab Masjid, Gereja,
Rumah sakit, sekolah anak-anak bunda
kadaluwarsa
Kami tempuh terang cahaya
sementara percaya
Di manapun berada
Doa air muka
Dua gunung kembar itu
dari mulut ke mulut
Nenek moyang kami laki dan perempuan
Nama Puka dan Tobi
Keduanya bermain-main serasi
sawah akan hijau kembali
penyakit ispa sembuh kembali
kembali sediakala
Sejak awal kami kumpulan pengungsi
rawat inap di bumi
AMBER karya Anwar Willy Andhika, Unnes
from a black stone in abyss night.
With a spark it found its light.
The heat burns and light.
Burns all… Take all .
light more, yet meaningless to all.
The light shines bright , but no one care.
Then shine it like no name.
Ended as amber that takes all.
Hidden among all lights.