Gebyar Perayaan Bulan Bahasa 2024, Ajak Generasi Muda untuk Mengutamakan Bahasa Negara

Share link

Ahmad Muzaki

Kabupaten Semarang, balaibahasajateng.kemdikbud.go.id—Rabu, 30 Oktober 2024 Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah mengadakan gelar wicara “Gebyar Perayaan Bulan Bahasa 2024” bertempat di Hotel Wujil, Ungaran, Kabupaten Semarang. Acara dibuka dengan pertunjukan tari wadak goder yang dibawakan oleh Angela Gysca Ariella dan Adik Mas Joni, Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Selain gelar wicara, acara ini juga diramaikan dengan penampilan baca puisi, gim kebahasaan, stan niaga bahasa, stan pameran produk, layanan, dan buku terbitan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, stan foto, serta stan klinik bahasa.

Acara ini diikuti oleh perwakilan mahasiswa dari berbagai universitas di Jawa Tengah, Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah, dan Pegawai Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Dr. Syarifuddin, M.Hum., selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah membuka langsung kegiatan tersebut. Pada kesempatan itu beliau mengingatkan kembali momen Sumpah Pemuda yang juga menjadi tonggak dikukuhkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan. “Bulan Oktober menjadi bulan yang penting karena di dalamnya terdapat momen bersejarah bagi perkembangan bahasa Indonesia, yaitu diikrarkannya Sumpah Pemuda dengan tiga poin utama: bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia,” ujarnya.

Sebelum gelar wicara dimulai, panita mengajak peserta yang mayoritas generasi muda untuk menyatakan komitmen bersama agar senantiasa mengutamakan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa persatuan. Dipandu oleh Duta Bahasa, peserta mengucapkan dan mengikuti setiap kalimat dalam butir ikrar dan komitmen bersama dengan penuh khidmat.

Adapun kegiatan gelar wicara ini mendatangkan dua Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah yaitu Pradana Ricardo, S.S. dan Nurma Aisyah. Ricardo menyampaikan materi tentang upaya memperkuat identitas nasional. Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Indonesia tersebut juga membagikan contoh penggunaan bahasa Indonesia yang kurang tepat di ruang publik. “Saya sering menjumpai beberapa reklame atau papan penunjuk jalan yang belum menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Nah, kalau dari segi penamaan dan informasi saja masih menggunakan bahasa asing, nilai bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas nasional masih belum bisa dicapai.”

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Duta Bahasa Nurma Aisyah menyampaikan materi tentang pentingnya melestarikan dan bangga menggunakan bahasa daerah. Dalam sesi tanya jawab Nurma menyampaikan bahwa menggunakan bahasa daerah tidak mematikan bahasa Indonesia sebagai nasional. “Dengan adanya bahasa daerah tidak akan menjadikan bahasa Indonesia menjadi termarjinalkan. Justru sebaliknya, bahasa daerah akan memperkaya kosakata bahasa Indonesia.”

Gelar wicara kemudian ditutup dengan gim kebahasaan. Dalam gim tersebut peserta diajak untuk menjawab pertanyaan seputar bahasa dan sastra Indonesia. Adapun tiga peserta terbaik mendapatkan hadiah lawang persembahan dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. [amz/umi/aas]

Penyunting: Umi Farida


Share link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top