Bersajak: Menyalakan Literasi dan Menjunjung Bahasa Indonesia dalam Dunia Tanpa Cahaya
Gemilang Dani Saputra, Olivia Firdaus *)

Hidup tanpa warna dan cahaya. Setiap langkah yang diambil adalah petualangan yang menuntut kepekaan indra selain mata. Itulah yang dirasakan teman-teman tunanetra. Saat ini Indonesia menempati posisi ketiga dalam kasus kebutaan di dunia. Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah penyandang tunanetra di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 3.750.000 jiwa dan 40% di antaranya merupakan anak-anak dengan usia 6—18 tahun. Hal ini menandakan bahwa kasus kebutaan per seratus orang adalah 1,47% dan angka ini naik 0,1% setiap tahun. Kabar terbaru datang dari Badan Pusat Statistik yang menyebutkan bahwa pada tahun 2020 jumlah penyandang tunanetra di Indonesia telah mencapai 22.500.000 orang.
Angka kebutaan di Indonesia yang cukup tinggi itu seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah. Hal ini disebabkan fasilitas pemerintah, khususnya pendidikan untuk tunanetra di Indonesia, masih belum mengakomodasi kebutuhan mereka sesuai dengan jumlah tersebut. Padahal, hak pendidikan bagi tunanetra telah diatur dan dijamin negara melalui UUD 1945 Pasal 31 ayat (1) yang menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Hak tersebut termasuk akses dalam berliterasi. Literasi sudah semestinya diperoleh oleh seluruh warga negara, termasuk disabilitas tunanetra. Pendidikan tersebut dapat diakses, salah satunya, dengan membaca.
Bagi sebagian orang, membaca mungkin menjadi sebuah kegiatan yang mudah untuk dilakukan. Namun, bagi penyandang tunanetra, membaca adalah sebuah hal yang “mewah.” Bagaimana tidak? Di tengah perkembangan zaman, mereka masih memiliki keterbatasan dalam akses membaca. Hal tersebut dibuktikan dengan kabar memprihatinkan dari Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, dan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Media radartasik.com dan solopos.com menyebutkan bahwa perpustakaan daerah di dua wilayah tersebut hanya memiliki satu buku Braille. Kabar ini diperkuat dengan fakta yang diperoleh dari Yayasan Mitra Netra. Mereka menyebutkan bahwa kemampuan produksi buku Braille dalam satu tahun hanya mencapai 150 judul yang digandakan menjadi 7.500 volume. Hal ini berbanding terbalik dengan data IKAPI yang menyebutkan bahwa pertumbuhan buku baru bagi anak awas mencapai 10.000 judul per tahun.
Keterbatasan akses literasi bagi penyandang tunanetra disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain, faktor biaya. Faktor ini menjadi hambatan utama dalam penyediaan buku Braille. Dalam proses produksinya, buku Braille membutuhkan dana yang lebih besar daripada buku konvensional. Selain itu, keterbatasan fasilitas alat produksi buku juga menjadi hambatan dalam penyediaan buku Braille. Bukan hanya itu, keterbatasan akses literasi bagi tunanetra juga akan menimbulkan tantangan besar dalam menumbuhkan sikap bangga berbahasa Indonesia secara inklusif. Ketika penyandang tunanetra tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mempelajari, memahami, dan mengapresiasi bahasa dan sastra Indonesia, hal tersebut memungkinan mereka termarginalkan dari identitas budaya yang menghubungkan seluruh bangsa.
Keterbatasan akses literasi, termasuk sastra, untuk disabilitas tunanetra tidak hanya menghalangi mereka dari penguasaan bahasa Indonesia secara optimal, tetapi juga membatasi partisipasi mereka dalam proses apresiasi karya sastra Indonesia. Oleh karena itu, memastikan literasi bahasa dan sastra Indonesia yang inklusif bagi tunanetra adalah langkah penting untuk menjadikan kebanggaan berbahasa Indonesia. Kebanggaan berbahasa Indonesia ini sesungguhnya harus dimiliki semua orang, termasuk anak-anak tunanetra yang hidup di dunia tanpa cahaya. Kami percaya bahwa bahasa dan sastra Indonesia tidak hanya milik orang yang mampu melihat keindahan dunia, tetapi juga milik mereka yang hidup dalam gulita. Dengan demikian, langkah konkret harus segera diambil untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam hal ini, pemuda, termasuk duta bahasa sebagai generasi penerus bangsa, harus mengambil peran untuk mengatasi hal itu.
Berbicara tentang kontribusi, pernyataan Ir. Soekarno beberapa tahun silam menjadi pecutan generasi muda untuk bergerak. “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.” Begitulah Soekarno menggambarkan betapa dahsyatnya peran pemuda dalam membawa perubahan sebuah bangsa. Perkataan tersebut patut diamini karena satu gebrakan yang dilakukan generasi muda akan sangat berdampak luas bagi masyarakat. Satu contoh aksi kebaikan oleh generasi muda akan memunculkan ribuan aksi baik yang lain di masyarakat.
Lantas, apa peran yang dapat dilakukan generasi penerus bangsa ini sebagai bentuk kecintaannya terhadap bahasa Indonesia? Duta Bahasa Jawa Tengah, sebagai wadah bagi generasi muda pencinta bahasa, terus berperan aktif di masyarakat. Berbekal Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia, Duta Bahasa Jawa Tengah percaya bahwa bahasa Indonesia harus menjadi harta yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan untuk semua kalangan. Duta Bahasa Jawa Tengah berusaha menjadi pelita untuk semua. Menyikapi fenomena tersebut, Duta Bahasa Jawa Tengah menginisiasi pembuatan laman Belajar Sastra Hijau Anak (Bersajak). Laman yang beralamat di bersajak.com tersebut merupakan laman interaktif yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan literasi kebahasaan dan kesastraan anak-anak tunanetra. Laman ini memiliki keunggulan pada proses produksi yang lebih murah dan distribusi yang lebih cepat.
Dalam rangka pengembangan bahasa dan sastra Indonesia, laman Bersajak hadir sebagai media pembelajaran bahasa dan sastra yang bersifat inklusif. Laman ini juga sejalan dengan langkah pengembangan bahasa yang telah diatur pemerintah, yaitu penyusunan bahan ajar berkualitas. Bersajak diharapkan dapat menjadi oase di tengah tandusnya literasi bagi anak-anak tunanetra di Indonesia.
Wajah penuh semangat terlihat saat implementasi laman Bersajak di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Surakarta, SLB-A YKAB Surakarta, dan SLB Negeri Semarang. Antusiasme yang besar mereka tunjukkan saat sosialisasi laman yang dapat dioperasikan dengan suara itu. “Ayo mulai, aku udah nggak sabar mau mencoba,” ucap salah satu anak menunjukkan semangatnya. Bersajak seakan hadir sebagai sumber mata air baru bagi mereka. Semua navigasi atau petunjuk laman tersebut dibuat dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu, anak-anak juga harus menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah untuk menggerakkan laman tersebut. Dengan begitu, secara tidak langsung mereka akan terbiasa untuk berbahasa Indonesia.
Perancangan fitur suara yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia pada laman Bersajak telah dipertimbangkan sebagai upaya pembiasaan berbahasa Indonesia bagi generasi muda. Melalui laman tersebut, pengguna diajak untuk menggunakan kata sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia agar dapat mengoperasikan laman. Jika pengguna salah atau mengucapkan kata yang tidak baku, laman tidak merespons instruksi pengguna.
Selain itu, pembiasaan ini juga diterapkan secara menyenangkan pada laman Bersajak. Pembiasaan yang menyenangkan dilakukan dengan menghadirkan permainan kebahasaan yang otomatis muncul setelah buku audio dalam Bersajak didengarkan. Suasana seru dan menyenangkan tergambar jelas di wajah siswa SLB Negeri Surakarta ketika menjelajahi fragmen kebahasaan dalam gim melengkapi kata.
“Ini gimana, sih? Aku kok salah terus?” ungkapnya.
Dengan penuh kesabaran, Duta Bahasa Jawa Tengah, Gemilang Dani Saputra dan Olivia Firdaus, sebagai inisiator laman Bersajak terus mengajari anak-anak untuk mencoba ulang dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka percaya pada pepatah alah bisa karena terbiasa yang bermakna ‘sesuatu yang awalnya sulit akan menjadi mudah karena terbiasa’. Alhasil, anak-anak peserta implementasi Bersajak kembali mengerjakan dengan penuh keyakinan. Akhirnya mereka mampu menyelesaikan permainan dengan sangat apik.
Dani dan Olivia percaya bahwa laman Bersajak tersebut memiliki kebermanfaatan yang lebih besar. Bukan sekadar upaya memenuhi hak literasi anak-anak tunanetra, melainkan juga menggelorakan penggunaan bahasa Indonesia pada generasi muda, terutama penyandang tunanetra. Selain itu, Bersajak juga memiliki muatan sastra hijau atau kepedulian lingkungan. Hal ini bermula dari keprihatinan akan krisis lingkungan yang semakin masif. Dengan demikian, literasi diharapkan menjadi salah satu wadah yang dapat digunakan untuk mengajak generasi muda lebih peduli akan lingkungan.
Salah seorang siswa SLB Negeri Surakarta berseloroh, “Hah, kok ceritanya tentang alam semua, sih?” Mendengar pertanyaan tersebut, dengan sangat hati-hati, Dani dan Olivia menjelaskan bahwa penggunaan pendekatan sastra hijau mengajak mereka untuk merenungkan hubungan manusia dengan alam melalui cerita yang diadaptasi dari buku terbitan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Media cerita dipilih karena mengandung nilai moral yang dapat menguatkan pendidikan karakter anak-anak. Hadirnya laman Bersajak yang mengintegrasikan cerita bertema peduli lingkungan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar diharapkan menjadi jawaban untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak tunanetra terhadap bahasa Indonesia dan lingkungan melalui literasi.
Sebuah inovasi tidak akan berjalan tanpa dukungan dari berbagai pihak. Menanggapi hal tersebut, Duta Bahasa Jawa Tengah telah melakukan audiensi dengan Komunitas Difalitera, Program Studi Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran, Program Studi Pendidikan Luar Biasa Universitas Sebelas Maret, CV Jaya Kreativindo, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, serta berbagai media daring dan cetak di Jawa Tengah untuk mewujudkan kolaborasi pentahelix agar memaksimalkan fungsi laman Bersajak.
”Ini sangat luar biasa, sebuah inovasi yang dapat kami adopsi. Setelah ini, adakan bimtek pengoperasian laman. Setelah siap, sebarkan laman ini ke seluruh SLB di Jawa Tengah,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Hal itu menjadi angin segar bagi Dani dan Olivia sebagai penggagas laman Bersajak karena laman ini terjamin keberlanjutannya.
Kendati demikian, agar laman Bersajak berfungsi lebih optimal, diperlukan beberapa alat yang dapat menunjang pengoperasian laman. Salah satu alat yang diperlukan adalah penyuara jemala. Jika alat ini tersedia, fungsi Bersajak akan lebih optimal sebagai media literasi bermuatan sastra hijau bagi anak-anak tunanetra. Laman ini diharapkan terus dapat diperbarui dan disempurnakan agar dapat digunakan di mana pun dan kapan pun. Bahkan, diharapkan laman Bersajak ini tidak hanya digunakan di Indonesia, tetapi juga digunakan disabilitas tunanetra di berbagai belahan dunia melalui diplomasi bahasa dan sastra. Inilah salah satu upaya generasi muda yang bangga terhadap bahasa negara, yaitu bahasa Indonesia. Melalui literasi, generasi muda mendapatkan wawasan yang luas. Wawasan tersebut dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk bersaing di kancah internasional. [dan/olv/asa/dza/aas]
*) Pemenang I Putra dan Putri Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah 2024
